Nak cari ape..??

Jumat, 01 Januari 2016

Putri Tandampalik (Diangkat dari cerita rakyat Sulawesi Selatan)



Alkisah, pada zaman dahulu kala, disebuah daerah di Provinsi Sulawesi Selatan, berdiri sebuah kerajaan yang bernama Kerajaaan Luwu. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang raja atau datu yang bernama La Busatana  Datu Maongge, atau sering  dipanggil Raja Luwu atau Datu Luwu. Ia adalah  seorang raja yang adil, arif dan  bijaksana, sehingga rakyatnya hidup  makmur dan sentosa. Datu Luwu mempunyai seorang putri yang cantik  jelita dan berperangai baik, namanya Putri Tandampalik. Berita kecantikan dan perangai baiknya tersebar sampai keberbagai negeri di Sulawesi Selatan.

Pada  suatu hari, Raja Bone ingin  menikahkan putranya dengan Putri Tandampalik. Ia pun mengutus beberapa pengawal  istana kekerajaan Luwu  untuk melamar sang Putri. Sesampainya diistana Luwu,  utusan tersebut  disambut dengan ramah oleh Datu Luwu. “Ampun, Baginda! Kami adalah utusan Raja Bone,” lapor seorang utusan sambil memberi hormat kepada Datu Luwu. “Kalau boleh aku tahu, ada apa gerangan kalian diutus oleh Raja  kalian keistana kami?,” tanya Datu Luwu dengan penuh wibawa.  “Ampun, Baginda! Perkenankanlah  kami untuk menyampaikan lamaran Raja Bone untuk putranya kepada putri Baginda yang bernama Putri Tandampalik,” jawab utusan itu memberi hormat.

Mendengar lamaran itu, Datu Luwu  terdiam sejenak. Ia bingung untuk mengambil  keputusan, menerima atau menolaknya, sebab dalam adat Kerajaan Luwu,  seorang gadis Luwu tidak dibenarkan menikah  dengan pemuda dari negeri  lain. Akan tetapi, jika lamaran itu ditolak, ia  khawatir akan terjadi  perang yang sangat dahsyat antara dua kerajaan, sehingga  membuat rakyat menderita. Setelah beberapa saat berpikir, Datu Luwu masih  kebingungan untuk memberikan jawaban. “Wahai, Utusan! Perlu kalian ketahui, bahwa dikerajaan Luwu ini berlaku sebuah hukum adat, yaitu seorang putri Luwuk tidak  boleh menikah dengan pemuda dari negeri lain. Untuk itu,  tolong sampaikan  kepada raja kalian, supaya aku diberi waktu beberapa hari untuk memikirkan  lamarannya tersebut,” ujar Datu Luwu. Utusan Raja  Bone memahami dan mengerti  keputusan Datu Luwu. Mereka pun kembali kekerajaan Bone untuk menyampaikan berita tersebut kepada Raja Bone.

Keesokan  harinya, tiba-tiba negeri Luwu geger. Putri Tandampalik terserang penyakit kusta. Sekujur   tubuhnya mengeluarkan cairan kental yang berbau anyir dan sangat menjijikkan. Para tabib istana mengatakan bahwa Putri Tandampalik terserang penyakit menular yang sangat berbahaya. Berita  tentang musibah yang menimpa sang Putri sudah tersebar keseluruh  negeri. Rakyat negeri Luwu sangat bersedih atas penyakit yang diderita oleh sang Putri yang mereka cintai itu. Setelah berpikir dan menimbang-nimbang, Datu Luwu memutuskan untuk mengasingkan putrinya kesuatu tempat yang jauh. Ia khawatir penyakit putrinya akan menular keseluruh rakyatnya. “Putriku! Demi keselamatan seluruh rakyat dinegeri ini, relakah engkau  jika Ayah mengasingkanmu  kedaerah lain?” tanya Raja Luwu pada  putrinya.“ Jika itu adalah jalan yang terbaik, Ananda menerima  keputusan Ayah dengan senang hati,” jawab sang Putri menerima keputusan ayahnya dengan tulus.

Dengan  berat hati, Datu Luwu terpaksa harus berpisah dengan putri yang sangat  dicintainya itu. Berangkatlah  sang Putri dengan perahu bersama beberapa pengawal istana. Sebelum berangkat, Datu Luwu memberikan  sebuah keris pusaka kepada Putri Tandampalik sebagai tanda bahwa ia tidak pernah melupakan, apalagi membuang anaknya. Setelah mempersiapkan segala perbekalan yang dibutuhkan, berangkatlah mereka kesuatu  daerah  yang jauh dari Kerajaan Luwu. Berbulan-bulan sudah mereka berlayar tanpa arah dan tujuan.

Pada  suatu hari, tampaklah bagi mereka sebuah pulau dari kejauhan. “Lihat, Tuan Putri!” seru seorang pengawal sambil  menunjuk kearah pulau itu. “Akhirnya,  kita pun menemukan pulau,”  jawab sang Putri dengan perasaan lega. Para  pengawal pun semakin cepat mengayuh perahunya mendekati pulau itu. “Wah, indah sekali pemandangan itu. Sepertinya  pulau itu belum terjamah oleh manusia,” sahut pengawal yang lain dengan kagum.

Tak  berapa  lama, sampailah mereka dipulau itu.Seorang pengawal yang  lebih dahulu  menginjakkan kakinya dipulau itu menemukan buah wajao. Pengawal itu  kemudian memetik beberapa biji buah wajao untuk sang Putri. “Pulau ini  kuberi nama Pulau Wajo,” kata  sang Putri saat menerima buah itu. Sejak saat itu, Putri Tandampalik beserta  pengawalnya memulai kehidupan baru. Mereka hidup  dengan penuh kesederhanaan. Meskipun  demikian, mereka tetap bekerja  keras penuh dengan semangat dan gembira. Hari  berganti hari, minggu  berganti minggu, bulan berganti bulan, tak terasa satu tahun sudah mereka berada ditempat itu.

Suatu  waktu, Putri Tandampalik duduk ditepi danau yang terletak ditengah pulau itu. Tiba-tiba seekor kerbau putih menghampiri dan menjilati kulit sang Putri dengan lembut. Semula, sang Putri hendak mengusirnya. Tetapi, hewan itu tampak jinak dan terus  menjilatinya. Akhirnya, ia  diamkan saja. Sungguh ajaib! Setelah berkali-kali  dijilat oleh kerbau  itu, kulit sang Putri yang mengeluarkan cairan tiba-tiba hilang tanpa bekas. Kulit sang Putri kembali halus, mulus dan bersih seperti sedia kala. Sang Putri terharu dan bersyukur kepada Tuhan, karena  penyakitnya telah sembuh. Ia kemudian berpesan kepada para pengawalnya,  “Mulai saat ini, aku minta kalian untuk tidak menyembelih atau memakan kerbau putih yang ada dipulau ini, karena hewan itu telah  menyembuhkan penyakitku.” Permintaan sang  Putri itu langsung dipenuhi  oleh seluruh pengawalnya. Hingga kini, kerbau putih  yang ada di Pulau Wajo dibiarkan hidup bebas dan beranak pinak. Kemudian oleh masyarakat  setempat, kerbau putih tersebut disebut sebagai sakkoli.

Pada suatu hari, pulau Wajo kedatangan serombongan pemburu. Mereka adalah Putra Mahkota Kerajaan Bone yang didampingi oleh Anreguru Pakanranyeng, Panglima Kerajaan Bone, dan beberapa pengawalnya. Saking  asyiknya  berburu, Putra Mahkota Raja Bone tidak sadar kalau ia sudah terpisah dari rombongannya dan tersesat dihutan. Ia terus berteriak  memanggil panglima dan para pengawalnya. “Panglimaaa...! Pengawaaal...!  Aku disini, kalian dimana...?” Berkali-kali sang Putra Mahkota  berteriak, namun tidak ada jawaban. Menjelang  malam, ia pun memutuskan  untuk berstirahat di bawah sebuah pohon besar, karena kelelahan seharian berburu.

Malam  semakin  larut, Putra Mahkota tidak dapat memejamkan matanya. Suara-suara binatang malam  membuatnya terus terjaga dan gelisah. Ditengah gelapnya malam, tiba-tiba ia melihat seberkas cahaya dari  kejauhan. Semakin lama, pancaran cahaya itu semakin terang. Ia sangat  penasaran ingin mengetahuinya. Ia kemudian memberanikan diri untuk mencari sumber cahaya itu. Dengan tertatih-tatih, Putra Mahkota berusaha berjalan mengikuti kaki melangkah menelusuri gelapnya malam. Akhirnya, sampailah ia disebuah perkampungan yang ramai dengan  rumah-rumah penduduk. Setelah ia memasuki perkampungan itu, sumber cahaya itu semakin jelas terdapat disebuah rumah yang nampak kosong. Dengan melangkah pelan-pelan, Putra Mahkota  mendekati dan memasuki  rumah itu. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat seorang gadis yang cantik sekali bak bidadari sedang menjerang (memasak) air didalam rumah itu. Gadis  cantik itu tidak lain adalah Putri Tandampalik. “Ya, Tuhan! Mimpikah aku. Selama hidupku, baru kali ini aku melihat gadis secantik itu,” kata Putra  Mahkota dalam hati dengan perasaan kagum.

Putri Tandampalik yang merasa kedatangan tamu, tiba-tiba menoleh. Sang Putri tergagap, “Tampan sekali pemuda ini. Tetapi, siapa dia dan dari mana asalnya? Sepertinya dia bukan penduduk sini,” kata sang Putri dalam  hati. Kemudian mereka berdua berkenalan. Dalam waktu singkat, keduanya sudah akrab. Putri Tandampalik sangat kagum dengan kehalusan tutur bahasa Putra Mahkota. Meski ia seorang calon raja, ia sangat sopan dan rendah hati. Sebaliknya, bagi Putra  Mahkota, Putri Tandampalik adalah seorang gadis  yang anggun dan tidak sombong. Kecantikan dan penampilannya yang sederhana membuat Putra Mahkota kagum dan langsung  menaruh hati. Namun, Putra Mahkota tidak bisa berlama-lama di Pulau Wajo menemani Putri Tandampalik, karena ia harus kembali kenegerinya untuk menyelesaikan beberapa kewajibannya di Istana Bone.

Sejak   perjalanan dari Pulau Wajo sampai kekerajaan Bone, Putra Mahkota  selalu  teringat pada wajah cantik Putri Tandampalik. Ingin rasanya  Putra Mahkota  tinggal di Pulau Wajo. Anreguru Pakanyareng yang lebih dulu tiba dinegeri Bone setelah berpisah dengan Putra Mahkota di Pulau  Wajo, mengetahui apa yang  dirasakan oleh putra rajanya itu. Ia sering  melihat Putra Mahkota duduk  termenung seorang diri ditepi telaga. Oleh karena tidak ingin melihat tuannya  terus bersedih, maka Anreguru Pakanyareng segera menghadap dan menceritakan  semua kejadian yang pernah mereka alami di Pulau Wajo. “Ampun, Baginda Raja! Hamba mengusulkan agar Paduka Raja segera melamar Putri Tandampalik,” usul Anreguru  Pakanyareng. Setelah mendengar semua cerita dan usulan Anreguru itu, Raja Bone  segera mengutus beberapa pengawalnya mendampingi Putra Mahkota untuk melamar Putri Tandampalik di Pulau Wajo.

Sesampainya  dipulau itu, Putri Tandampalik tidak langsung menerima lamaran Putra Mahkota. Ia hanya memberikan keris pusaka Kerajaan Luwu yang diberikan ayahnya ketika ia diasingkan. “Maaf, Tuan-tuan! Aku belum bisa menerima lamaran kalian. Bawalah keris ini kepada Ayahandaku. Jika Ayahandaku  menerima kerisini berarti lamaran kalian diterima,” ujar sang Putri  seraya menyerahkan keris pusaka itu. Setelah bermusyawarah dengan pengawalnya, Putra Mahkota memutuskan untuk berangkat sendiri kekerajaan Luwu. Perjalanan berhari-hari ia jalani penuh dengan semangat. Setibanya dikerajaan Luwu, Putra Mahkota menceritakan pertemuannya dengan Putri Tandampalik dan menyerahkan keris pusaka itu pada Datu Luwu.


Datu Luwu dan permasuri sangat gembira mendengar berita baik tersebut. Datu  Luwu sangat kagum  dengan perangai Putra Mahkota. Datu Luwu merasa bahwa Putra Mahkota adalah  seorang pemuda yang gigih, bertutur kata lembut, sopan dan penuh semangat. Tanpa berpikir panjang lagi, Datu  Luwu menerima keris pusaka itu dengan tulus. Hal ini berarti bahwa lamaran Putra Mahkota diterima. Tanpa menunggu lama, Datu  Luwu dan  permaisuri datang mengunjungi Pulau Wajo untuk menemui putri kesayangannya. Pertemuan Datu Luwu dengan putri tunggalnya sangat mengharukan.  “Maafkan Ayah, Nak! Ayah telah membuangmu ketempat ini,”  Datu Luwu minta maaf sambil memeluk putrinya. “Tidak, Ayah! Justru Ayah  harus bersyukur, karena  rakyat Luwu terhindar dari penyakit menular yang menimpa diriku,” kata Putri Tandampalik.

Beberapa  hari  kemudian, Putri Tandampalik menikah dengan Putra Mahkota Raja Bone di Pulau Wajo.  Pesta pernikahan mereka berlansung sangat meriah.  Seluruh keluarga dari dua Kerajaan Besar di Sulawesi Selatan itu sangat  gembira dengan pernikahan tersebut. Putri Tandampalik dan Putra  Mahkota hidup bahagia. Beberapa tahun  kemudian, Putra Mahkota naik tahta. Ia menjadi raja yang arif dan bijaksana. Maka semakin  bertambahlah kebahagiaan mereka.
Read More ->>

Putri Tangguk (Diangkat dari cerita rakyat Jambi)



Alkisah, di Negeri Bunga, Kecamatan Danau Kerinci, Jambi, ada seorang perempuan bernama Putri Tangguk. Ia hidup bersama suami dan tujuh orang anaknya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ia bersama suaminya menanam padi disawahnya yang hanya seluas tangguk. Meskipun hanya seluas tangguk, sawah itu dapat menghasilkan padi yang sangat banyak. Setiap habis dipanen, tanaman padi disawahnya muncul lagi dan menguning. Dipanen lagi, muncul lagi, dan begitu seterusnya. Berkat ketekunannya bekerja siang dan malam menuai padi, tujuh lumbung padinya yang besar-besar sudah hampir penuh. Namun, kesibukan itu membuatnya lupa mengerjakan pekerjaan lain. Ia terkadang lupa mandi sehingga dakinya dapat dikerok dengan sendok. Ia juga tidak sempat bersilaturahmi dengan tetangganya dan mengurus ketujuh orang anaknya.

Pada suatu malam, saat ketujuh anaknya sudah tidur, Putri Tangguk berkata kepada suaminya yang sedang berbaring diatas pembaringan. “Bang, Adik sudah capek setiap hari menuai padi. Adik ingin mengurus anak-anak dan bersilaturahmi ketetangga, karena kita seperti terkucil,” ungkap Putri Tangguk kepada suaminya. “Lalu, apa rencanamu, Dik?” tanya suaminya dengan suara pelan. “Begini Bang! Besok Adik ingin memenuhi ketujuh lumbung padi yang ada disamping rumah untuk persediaan kebutuhan kita beberapa bulan kedepan,” jawab Putri Tangguk. “Baiklah kalau begitu. Besok anak-anak kita ajak kesawah untuk membantu mengangkut padi pulang kerumah,” jawab suaminya. “Ya, Bang!” jawab Putri Tangguk.

Beberapa saat kemudian, mereka pun tertidur lelap karena kelelahan setelah bekerja hampir sehari semalam. Ketika malam semakin larut, tiba-tiba hujan turun dengan deras. Hujan itu baru berhenti saat hari mulai pagi. akibatnya, semua jalan yang ada dikampung maupun yang menuju kesawah menjadi licin.

Usai sarapan, Putri Tangguk bersama suami dan ketujuh anaknya berangkat kesawah untuk menuai padi dan mengangkutnya kerumah. Dalam perjalanan menuju kesawah, tiba-tiba Putri Tangguk terpelesat dan terjatuh. Suaminya yang berjalan dibelakangnya segera menolongnya. Walau sudah ditolong, Putri Tangguk tetap marah-marah. “Jalanan kurang ajar!” hardik Putri Tangguk. “Baiklah! Padi yang aku tuai nanti akan aku serakkan disini sebagai pengganti pasir agar tidak licin lagi,” tambahnya.

Setelah menuai padi yang banyak, hampir semua padi yang mereka bawa diserakkan dijalan itu sehingga tidak licin lagi. Mereka hanya membawa pulang sedikit padi dan memasukkannya kedalam lumbung padi. Sesuai dengan janjinya, Putri Tangguk tidak pernah lagi menuai padi disawahnya yang seluas tangguk itu. Kini, ia mengisi hari-harinya dengan menenun kain. Ia membuat baju untuk dirinya sendiri, suami, dan untuk anak-anaknya. Akan tetapi, kesibukannya menenun kain tersebut lagi-lagi membuatnya lupa bersilaturahmi kerumah tetangga dan mengurus ketujuh anaknya.

Pada suatu hari, Putri Tangguk keasyikan menenun kain dari pagi hingga sore hari, sehingga lupa memasak nasi didapur untuk suami dan anak-anaknya. Putri Tangguk tetap saja asyik menenun sampai larut malam. Ketujuh anaknya pun tertidur semua. Setelah selesai menenun, Putri Tangguk pun ikut tidur disamping anak-anaknya.

Pada saat tengah malam, si Bungsu terbangun karena kelaparan. Ia menangis minta makan. Untungnya Putri Tangguk dapat membujuknya sehingga anak itu tertidur kembali. Selang beberapa waktu, anak-anaknya yang lain pun terbangun secara bergiliran, dan ia berhasil membujuknya untuk kembali tidur. Namun, ketika anaknya yang Sulung bangun dan minta makan, ia bukan membujuknya,melainkan memarahinya.
“Hei, kamu itu sudah besar! Tidak perlu dilayani seperti anak kecil. Ambil sendiri nasi dipanci. Kalau tidak ada, ambil beras dalam kaleng dan masak sendiri. Jika tidak ada beras, ambil padi dilumbung dan tumbuk sendiri!” seru Putri Tangguk kepada anak sulungnya.

Oleh karena sudah kelaparan, si Sulung pun menuruti kata-kata ibunya. Namun, ketika masuk kedapur, ia tidak menemukan nasi dipanci maupun beras dikaleng. “Bu! Nasi dan beras sudah habis semua. Tolonglah tumbukkan dan tampikan padi!” pinta si Sulung kepada ibunya. “Ya, sudahlah kalau begitu. Tahan saja laparnya hingga besok pagi! Ibu malas menumbuk dan menampi beras, apalagi malam-malam begini. Nanti mengganggu tetangga,” ujar Putri Tangguk. Usai berkata begitu, Putri Tangguk tertidur kembali karena kelelahan setelah menenun seharian penuh. Si Sulung pun kembali tidur dan ia harus menahan lapar hingga pagi hari.

Keesokan harinya, ketujuh anaknya bangun dalam keadaan perut keroncongan. Si Bungsu menangis merengek-rengek karena sudah tidak kuat menahan lapar. Demikian pula, keenam anaknya yang lain, semua kelaparan dan minta makan. Putri Tangguk pun segera menyuruh suaminya mengambil padi dilumbung untuk ditumbuk. Sang Suami pun segera menuju kelumbung padi yang berada disamping rumah. Alangkah terkejutnya sang Suami saat membuka salah satu lumbung padinya, ia mendapati lumbungnya kosong. “Hei, kemana padi-padi itu?” gumam sang Suami.

Dengan perasaan panik, ia pun memeriksa satu per satu lumbung padinya yang lain. Namun, setelah ia membuka semuanya, tidak sebutir pun biji padi yang tersisa. “Dik...! Dik...! Cepatlah kemari!” seru sang Suami memanggil Putri Tangguk. “Ada apa, Bang?” tanya Putri Tangguk dengan perasaan cemas. “Lihatlah! Semua lumbung padi kita kosong. Pasti ada pencuri yang mengambil padi kita,” jawab sang Suami.

Putri Tangguk hanya ternganga penuh keheranan. Ia seakan-akan tidak percaya pada apa yang baru disaksikannya. “Benar, Bang! Tadi malam pencuri itu juga mengambil nasi kita dipanci dan beras dikaleng,” tambah Putri Tangguk. “Tapi, tidak apalah, Bang! Kita masih mempunyai harapan. Bukankah sawah kita adalah gudang padi?” kata Putri Tangguk.

Usai berkata begitu, Putri Tangguk langsung menarik tangan suaminya lalu berlari menuju kesawah. Sesampai disawah, alangkah kecewanya Putri Tangguk, karena harapannya telah sirna. “Bang! Pupuslah harapan kita. Lihatlah sawah kita! Jangankan biji padi, batang padi pun tidak ada. Yang ada hanya rumput tebal menutupi sawah kita,” kata Putri Tangguk.

Sang Suami pun tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya tercengang penuh keheranan menyaksikan peristiwa aneh itu. Dengan perasaan sedih, Putri Tangguk dan suaminya pulang kerumah. Kakinya terasa sangat berat untuk melangkah. Selama dalam perjalanan, Putri Tangguk mencoba merenungi sikap dan perbuatannya selama ini. Sebelum sampai di rumah, teringatlah ia pada sikap dan perlakuannya terhadap padi dengan menganggapnya hanya seperti pasir dan menyerakkannya dijalan yang becek agar tidak licin. “Ya... Tuhan! Itukah kesalahanku sehingga kutukan ini datang kepada kami?” keluh Putri Tangguk dalam hati.

Sesampainnya dirumah, Putri Tangguk tidak dapat berbuat apa-apa. Seluruh badannya terasa lemas. Hampir seharian ia hanya duduk termenung. Pada malam harinya, ia bermimpi didatangi oleh seorang lelaki tua berjenggot panjang mengenakan pakaian berwarna putih.

“Wahai Putri Tangguk! Aku tahu kamu mempunyai sawah seluas tangguk, tetapi hasilnya mampu mengisi dasar Danau Kerinci sampai kelangit. Tetapi sayang, Putri Tangguk! Kamu orang yang sombong dan takabbur. Kamu pernah meremehkan padi-padi itu dengan menyerakkannya seperti pasir sebagai pelapis jalan licin. Ketahuilah, wahai Putri Tangguk...! Diantara padi-padi yang pernah kamu serakkan itu ada setangkai padi hitam. Dia adalah raja kami. Jika hanya kami yang kamu perlakukan seperti itu, tidak akan menjadi masalah. Tetapi, karena raja kami juga kamu perlakukan seperti itu, maka kami semua marah. Kami tidak akan datang lagi dan tumbuh disawahmu. Masa depan kamu dan keluargamu akan sengsara. Rezekimu hanya akan seperti rezeki ayam. Hasil kerja sehari, cukup untuk dimakan sehari. Kamu dan keluargamu tidak akan bisa makan jika tidak bekerja dulu. Hidupmu benar-benar akan seperti ayam, mengais dulu baru makan....” ujar lelaki tua itu dalam mimpi Putri Tangguk.

Putri Tangguk belum sempat berkata apa-apa, orang tua itu sudah menghilang. Ia terbangun dari tidurnya saat hari mulai siang. Ia sangat sedih merenungi semua ucapan orang tua yang datang dalam mimpinya semalam. Ia akan menjalani hidup bersama keluarganya dengan kesengsaraan. Ia sangat menyesali semua perbuatannya yang sombong dan takabbur dengan menyerakkan padi untuk pelapis jalan licin. Namun, apalah arti sebuah penyesalan. Menyesal kemudian tiadalah guna.
Read More ->>

Timun Emas (Diangkat dari cerita rakyat Jawa Tengah)



Di suatu desa hiduplah seorang janda tua yang bernama mbok Sarni. Tiap hari dia menghabiskan waktunya sendirian, karena mbok Sarni tidak memiliki seorang anak. Sebenarnya dia ingin sekali mempunyai anak, agar bisa membantunya bekerja.

Pada suatu sore pergilah mbok Sarni kehutan untuk mencari kayu, dan ditengah jalan mbok Sarni bertemu dengan raksasa yang sangat besar sekali. “Hei, mau kemana kamu?”, tanya si Raksasa. “Aku hanya mau mengumpulkan kayu bakar, jadi izinkanlah aku lewat”, jawab mbok Sarni. “Hahahaha.... kamu boleh lewat setelah kamu memberiku seorang anak manusia untuk aku santap,” kata si Raksasa. Lalu mbok Sarni menjawab, “Tetapi aku tidak mempunyai anak.”

Setelah mbok Sarni mengatakan bahwa dia tidak punya anak dan ingin sekali punya anak, maka si Raksasa memberinya biji mentimun. Raksasa itu berkata, “Wahai wanita tua, ini aku berikan kamu biji mentimun. Tanamlah bijiini dihalaman rumahmu, dan setelah dua minggu kamu akan mendapatkan seorang anak. Tetapi ingat, serahkan anak itu padaku setelah usianya enam tahun”.

Setelah dua minggu, mentimun itu nampak berbuah sangat lebatdan ada salah satu mentimun yang cukup besar. Mbok Sarni kemudian mengambilnya, dan setelah dibelah ternyata isinya adalah seorang bayi yang sangat cantikjelita. Bayi itu kemudian diberi nama timun emas.

Semakin hari timun emas semakin tumbuh besar, dan mbok Sarni sangat gembira sekali karena rumahnya tidak sepi lagi. Semua pekerjaannya bisa selesai dengan cepat karena bantuan timun emas.

Akhirnya pada suatu hari datanglah si Raksasa untuk menagih janji. Mbok Sarni sangat ketakutan, dan tidak mau kehilangan timun emas. Kemudian mbok Sarni berkata, “Wahai raksasa, datanglah kesini dua tahun lagi. Semakin dewasa anak ini, maka semakin enak untuk disantap”. Si Raksasa pun setuju dan meninggalkan rumah mbok Sarni.

Waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama, karena itu tiap hari mbok Sarni mencari akal bagaimana caranya supaya anaknya tidak dibawa si Raksasa. Hati mbok Sarni sangat cemas sekali, dan akhirnya pada suatu malam mbok Sarni bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia diberitahu agar timun emas menemui petapa digunung.

Pagi harinya mbok Sarni menyuruh timun emas untuk segera menemui petapa itu. Setelah bertemu dengan petapa, timun emas kemudian bercerita tentang maksud kedatangannya. Sang petapa kemudian memberinya empat buah bungkusan kecil yang isinya biji mentimun, jarum, garam, dan terasi.“ Lemparkan satu per satu bungkusan ini, kalau kamu dikejar oleh raksasa itu.” perintah petapa. Kemudian timun emas pulang kerumah, dan langsung menyimpan bungkusan dari sang petapa.

Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. “Wahai wanita tua, mana anak itu? Aku sudah tidak tahan untuk menyantapnya”, teriak si Raksasa. Kemudian mbok Sarni menjawab, “Janganlah kau ambil anakku ini wahai raksasa, karena aku sangat sayang padanya. Lebih baik aku saja yang kamu santap”. Raksasa tidak mau menerima tawaran dari mbok Sarni itu, dan akhirnya marah besar. “Mana anak itu? Mana timun emas?”, teriak si raksasa. Karena tidak tega melihat mbok Sarni menangis terus, maka timun emas keluar dari tempat sembunyinya. “Aku disini raksasa, tangkaplah aku jika kau bisa!!!”, teriak timun emas. Raksasapun mengejarnya, dan timun emas mulai melemparkan kantong yang berisi mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun menjadi terhambat, karena batang timun tersebut terus melilit tubuhnya. Tetapi akhirnya si raksasa berhasil bebas juga, dan mulai mengejar timun emas lagi. Lalu timun emas menaburkan kantong kedua yang berisi jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah karena tertancap bambu tersebut si raksasa terus mengejar.

Kemudian timun emas membuka bingkisan ketiga yang berisi garam. Seketika itu hutanpun menjadi lautan luas. Tetapi lautan itu dengan mudah dilalui si raksasa. Yang terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika itu terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, dan si raksasa terceburdi dalamnya. Akhirnya raksasapun mati. Timun Emas mengucap syukur kepada Tuhan YME, karena sudah diselamatkan dari raksasa yang kejam. Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sarni hidup bahagia dan damai.
Read More ->>

Puteri Tujuh (Diangkat dari cerita rakyat Dumai, Riau) Versi 2


Dulu, Dumai hanyalah sebuah dusun nelayan yang sepi, berada dipesisir Timur Provinsi Riau, Indonesia. Kini, Dumai yang kaya dengan minyak bumi itu, menjelma menjadi kota pelabuhan minyak yang sangat ramai sejak tahun 1999. Kapal-kapal tangki minyak raksasa setiap hari singgah dan merapat dipelabuhan ini. Kilang-kilang minyak yang tumbuh menjamur disekitar pelabuhan menjadikan Kota Dumai pada malam hari gemerlapan bak permata berkilauan. Kekayaan Kota Dumai yang lain adalah keanekaragaman tradisi. Ada dua tradisi yang sejak lama berkembang dikalangan masyarakat kota Dumai yaitu tradisi tulisan dan lisan. Salah satu tradisi lisan yang sangat populer didaerah ini adalah cerita-cerita rakyat yang dituturkan secara turun-temurun. Sampai saat ini, Kota Dumai masih menyimpan sejumlah cerita rakyat yang digemari dan memiliki fungsi moral yang amat penting bagi kehidupan masyarakat, misalnya sebagai alat pendidikan, pengajaran moral, hiburan, dan sebagainya. Salah satu cerita rakyat yang masih berkembang di Dumai adalah Legenda Putri Tujuh. Cerita legenda ini mengisahkan tentang asal-mula nama Kota Dumai.

Konon, pada zaman dahulu kala, didaerah Dumai berdiri sebuah kerajaan bernama Seri Bunga Tanjung. Kerajaan ini diperintah oleh seorang Ratu yang bernama Cik Sima. Ratu ini memiliki tujuh orang putri yang elok nan rupawan, yang dikenal dengan Putri Tujuh. Dari ketujuh putri tersebut, putri bungsulah yang paling cantik, namanya Mayang Sari. Putri Mayang Sari memiliki keindahan tubuh yang sangat mempesona, kulitnya lembut bagai sutra, wajahnya elok berseri bagaikan bulan purnama, bibirnya merah bagai delima, alisnya bagai semut beriring, rambutnya yang panjang dan ikal terurai bagai mayang. Karena itu, sang Putri juga dikenal dengan sebutan Mayang Mengurai.

Pada suatu hari, ketujuh putri itu sedang mandi dilubuk Sarang Umai. Karena asyik berendam dan bersendau gurau, ketujuh putri itu tidak menyadari ada beberapa pasang mata yang sedang mengamati mereka, yang ternyata adalah Pangeran Empang Kuala dan para pengawalnya yang kebetulan lewat didaerah itu. Mereka mengamati ketujuh putri tersebut dari balik semak-semak. Secara diam-diam, sang Pangeran terpesona melihat kecantikan salah satu putri yang tak lain adalah Putri Mayang Sari. Tanpa disadari, Pangeran Empang Kuala bergumam lirih, “Gadis cantik dilubuk Umai....cantik di Umai. Ya, ya.....d‘umai...d‘umai....” Kata-kata itu terus terucap dalam hati Pangeran Empang Kuala. Rupanya, sang Pangeran jatuh cinta kepada sang Putri. Karena itu, sang Pangeran berniat untuk meminangnya.

Beberapa hari kemudian, sang Pangeran mengirim utusan untuk meminang putri itu yang diketahuinya bernama Mayang Mengurai. Utusan tersebut mengantarkan tepak sirih sebagai pinangan adat kebesaran raja kepada Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Pinangan itu pun disambut oleh Ratu Cik Sima dengan kemuliaan adat yang berlaku di Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Sebagai balasan pinangan Pangeran Empang Kuala, Ratu Cik Sima pun menjunjung tinggi adat kerajaan yaitu mengisi pinang dan gambir pada combol paling besar diantara tujuh buah combol yang ada didalam tepak itu. Enam buah combol lainnya sengaja tak diisinya, sehingga tetap kosong. Adat ini melambangkan bahwa putri tertualah yang berhak menerima pinangan terlebih dahulu.

Mengetahui pinangan Pangerannya ditolak, utusan tersebut kembali menghadap kepada sang Pangeran. “Ampun Baginda Raja! Hamba tak ada maksud mengecewakan Tuan. Keluarga Kerajaan Seri BungaTanjung belum bersedia menerima pinangan Tuan untuk memperistrikan Putri Mayang Mengurai.” Mendengar laporan itu, sang Raja pun naik pitam karena rasa malu yang amat sangat. Sang Pangeran tak lagi peduli dengan adat yang berlaku dinegeri Seri Bunga Tanjung. Amarah yang menguasai hatinya tak bisa dikendalikan lagi. Sang Pangeran pun segera memerintahkan para panglima dan prajuritnya untuk menyerang Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Maka, pertempuran antara kedua kerajaan dipinggiran Selat Malaka itu tak dapat dielakkan lagi.

Ditengah berkecamuknya perang tersebut, Ratu Cik Sima segera melarikan ketujuh putrinya kedalam hutan dan menyembunyikan mereka didalam sebuah lubang yang beratapkan tanah dan terlindung oleh pepohonan. Tak lupa pula sang Ratu membekali ketujuh putrinya makanan yang cukup untuk tiga bulan. Setelah itu, sang Ratu kembali kekerajaan untuk mengadakan perlawanan terhadap pasukan Pangeran Empang Kuala. Sudah 3 bulan berlalu, namun pertempuran antara kedua kerajaan itu tak kunjung usai. Setelah memasuki bulan keempat, pasukan Ratu Cik Sima semakin terdesak dan tak berdaya. Akhirnya, Negeri Seri Bunga Tanjung dihancurkan, rakyatnya banyak yang tewas. Melihat negerinya hancur dan tak berdaya, Ratu Cik Sima segera meminta bantuan jin yang sedang bertapa dibukit Hulu Sungai Umai.

Pada suatu senja, pasukan Pangeran Empang Kuala sedang beristirahat dihilir Umai. Mereka berlindung dibawah pohon-pohon bakau. Namun, menjelang malam terjadi peristiwa yang sangat mengerikan. Secara tiba-tiba mereka tertimpa beribu-ribu buah bakau yang jatuh dan menusuk kebadan para pasukan Pangeran Empang Kuala. Tak sampai separuh malam, pasukan Pangeran Empang Kaula dapat dilumpuhkan. Pada saat pasukan Kerajaan Empang Kuala tak berdaya, datanglah utusan Ratu Cik Sima menghadap Pangeran Empang Kuala.

Melihat kedatangan utusan tersebut, sang Pangeran yang masih terduduk lemas menahan sakit langsung bertanya, “Hai orang Seri Bunga Tanjung, apa maksud kedatanganmu ini?”. Sang Utusan menjawab, “Hamba datang untuk menyampaikan pesan Ratu Cik Sima agar Pangeran berkenan menghentikan peperangan ini. Perbuatan kita ini telah merusakkan bumi sakti rantau bertuah dan menodai pesisir Seri Bunga Tanjung. Siapa yang datang dengan niat buruk, malapetaka akan menimpa, sebaliknya siapa yang datang dengan niat baik kenegeri Seri Bunga Tanjung, akan sejahteralah hidupnya,” kata utusan Ratu Cik Sima menjelaskan. Mendengar penjelasan utusan Ratu Cik Sima, sadarlah Pangeran Empang Kuala, bahwa dirinyalah yang memulai peperangan tersebut. Pangeran langsung memerintahkan pasukannya agar segera pulang ke Negeri Empang Kuala.

Keesokan harinya, Ratu Cik Sima bergegas mendatangi tempat persembunyian ketujuh putrinya didalam hutan. Alangkah terkejutnya Ratu Cik Sima, karena ketujuh putrinya sudah dalam keadaan tak bernyawa. Mereka mati karena haus dan lapar. Ternyata Ratu Cik Sima lupa, kalau bekal yang disediakan hanya cukup untuk tiga bulan. Sedangkan perang antara Ratu Cik Sima dengan Pangeran Empang Kuala berlangsung sampai empat bulan.

Akhirnya, karena tak kuat menahan kesedihan atas kematian ketujuh putrinya, maka Ratu Cik Sima pun jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia. Sampai kini, pengorbanan Putri Tujuh itu tetap dikenang dalam sebuah lirik:

Umbut mari mayang diumbut
Mari diumbut dirumpun buluh
Jemput mari dayang dijemput
Mari dijemput turun bertujuh

Ketujuhnya berkain serong
Ketujuhnya bersubang gading
Ketujuhnya bersanggul sendeng
Ketujuhnya memakai pending

Sejak peristiwa itu, masyarakat Dumai meyakini bahwa nama kota Dumai diambil dari kata “d‘umai” yang selalu diucapkan Pangeran Empang Kuala ketika melihat kecantikan Putri Mayang Sari atau Mayang Mengurai. Di Dumai juga bisa dijumpai situs bersejarah berupa pesanggarahan Putri Tujuh yang terletak didalam komplek kilang minyak PT Pertamina Dumai. Selain itu, ada beberapa nama tempat dikota Dumai yang diabadikan untuk mengenang peristiwa itu, diantaranya: kilang minyak milik Pertamina Dumai diberi nama Putri Tujuh, bukit hulu Sungai Umai tempat pertapaan Jin diberi nama Bukit Jin. Kemudian lirik Tujuh Putri sampai sekarang dijadikan nyanyian pengiring Tari Pulai dan Asyik Mayang bagi para tabib saat mengobati orang sakit.
Read More ->>

Pos Populer

Diberdayakan oleh Blogger.